Ketentuan Makalah LK 2 HMI Cabang Denpasar 2013

Juni 21, 2013 pukul 3:42 pm | Ditulis dalam Agenda Cab. Denpasar, Headline News, LK 2, Makalah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,
  1. Makalah diketik rapi sesuai dengan tema yang ditentukan oleh panitia
  2. Jumlah halaman minimal 15 halaman, tidak termasuk cover, daftar isi, kata pengantar, Lembar Pernyataan, daftar pustaka dan CV dengan spasi 1,5, font : Times New Roman, size 12, A4, margin: left: 3,5cm, right : 3cm , top: 3cm., bottom: 3cm
  3. Didukung referensi minimal 10 buku (tidak termasuk majalah, koran dan jurnal)
  4. Makalah merupakan hasil karya sendiri, bukan plagiat dan saduran serta dapat dipertanggungjawabkan. (disertai Lembar Pernyataan pada makalah)
  5. Sistematika penulisan merujuk kepada kaidah penulisan karya ilmiah.
  6. Menyertakan Curricullum Vitae (CV) pada Bagian akhir makalah.
  7. Makalah dijilid Buku (tidak dilakban) dengan warna cover Hijau dan dibuat rangkap 2.
  8. Hardcopy makalah diserahkan pada saat daftar ulang calon peserta.

Tema Makalah LK-II HMI Cabang Denpasar 2013

Juni 17, 2013 pukul 4:39 pm | Ditulis dalam Agenda Cab. Denpasar, Headline News, LK 2, Makalah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,
  • Materi A   : Pembangunan Partisipatif ; Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat
  • Materi B   : Prospek Dan Tantangan Missi HMI Secara Utuh Dalam Dinamika Perubahan Sosial Indonesia Saat Ini
  • Materi C   : Implementasi Konsepsi Ketahanan Nasional, Sebagai Fungsi Kemanan Dan Keutuhan NKRI
  • Materi D   : HMI Mengawal Problematika Bangsa Dalam Mendistribusikan Kader Menjadi Pemimpin Masyarakat.
  • Materi E   : Esensi Ajaran Islam Tentang Keadilan Sosial Dan Keadilan Ekonomi
  • Materi F   : NDP Dalam Upaya Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur
  • Materi G : Analisis Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Berbangsa Dan Bernegara
  • Materi H   : Membedah Urgensi Dan Hakikat Pergerakan Perempuan Dalam Politik Kepemimpinan
  • Materi I    : Outlook Pemilu 2014: Upaya Mencari Pemimpin Alternatif
  • Materi J    : Peran Pemerintah Dalam Menyelamatkan Aset Indonesia: Telaah Kritis Terhadap Kekuatan Investor Asing Dalam Mengincar SDA Indonesia
  • Materi K : Tantangan Modernisasi Pemuda Dalam Mengawal Perubahan
  • Materi L   : Strategi dan Upaya Menjaga Kerukunan Ummat Beragama (Kritik Atas Gerakan Radikalisme di Indoensia)
  • Materi M  : Tantangan Modernisasi Pemuda Menuju Reorientasi Pergerakan Dalam Mengawal Perubahan
  • Materi N   : Entrepreneurship : Upaya Menciptakan Bangsa Yang Mandiri
  • Materi O   : Manajemen Strategik HMI

Peranan HMI Dalam Membentuk Profil Kader HMI

Februari 23, 2011 pukul 1:06 pm | Ditulis dalam Makalah | 4 Komentar

Sejak berdirinya HMI sampai tahun 1958, pelaksanaan perkaderan di HMI seperti sekarang belum dijamah, mengapa demikian? Alasan sederhana, karena HMI pada usia 11 tahun anggota HMI belum banyak. Akan tetapi memasuki tahun 1959 Ismail Hassan Metareum (almarhum) sebagai ketua PB HMI 1957-1960, menyadari bahwa di masa mendatang akan bertambah banyak, juga HMI harus mempunyai anggota terdidik, sehinga merupakan SDM yang handal. Pembicaraan awal tentang pekaderan di HMI dimulai pada Konfrensi Taruan Giri Puncak tanggal 20 s/d 24 Juli 1959 yang dipimpin Ismail Hassan Matareum sebagai ketua dan Murtadha Makmur sebagai sekretaris. Konfrensi Taruna Giri melaporkan konsep pendidikan kader HMI yang waktu itu disebut pendidikan dasar. Berdasakan data yang dapat dihimpun, menghasilkan fakta bahwa konsep pendidikan dasar hasil konfrensi taruna giri itulah yang dikembangkan sehinga terbentuk pola dan sistem perkaderan HMI sepeti sekarang. Dari medan latihan ALOKA di india, diperoleh masukan-masukan untuk mengembangkan pendidikan dasar di HMI Konsultasi yang dilaksanakan oleh PB HMI di gedung Leutik, Bogor bulan Oktober 1961 diadakan poenyempurnaan konsep training HMI Bersamaan dengan perumusan kepribadian HMI pada musyawara nasional HMI di pekajengan-pekalongan tanggal 23-28 desember 1962 dirumuskan pula metode training HMI, Acuan ini memuat tentang pengertian kader, tujuan pendidikan/latihan, sistem/metode training, klarifikasi kader, waktu dan penyelengara training, tingkatan-tingkatan training yaitu : Basic Training, Itermediate Traning, dan Advanced Training. Training itu disertai dengan kurikulum masing-masing berjenjang.2

Perkaderan HMI berkembang terus yang ditandai diselengarakannya berbagai kegiatan seperti seminar nasional dengan metode training di kaliurang tahun 1963. Tahun 1967 di pekalongan diselengarakan seminar nasional perkaderan. Juga di pekalongan berlangsung tahu 1970 berlangsung Senior Couse nasional. Seminar kader nasional diadakan dijakarta tahun 1973. Lokakarya perkaderan digelar dikaliurang tahun 1975, tahun 1981 di Jatiwaringin diadakan seminar perkaderan HMI, disusul dengan lokakarya perkaderan HMI disurabaya tahun 1983, dimatraman tahun 1986. Kembali kesurabaya tahu 1988 diselengarahkan sarasehan dan lokakarya (Saloka) perkaderan. Lokakarya perkaderan dijakarta tahun 1997. Perkembangan perkaderan HMI menjadi wacana sejak konres ke – 8 tahun 1966 sampai kongres ke-21 tahun 1997. Kegiatan-kegiatan ini menunjukan bahwa perkembangan, penyempurnaan perkaderan di HMI terus belanjut. Strategi ini diperlukan karena perubahan situasi, ruang, waktu serta tantangan yang terus berubah dengan cepat sesuai dengan tuntunan zaman.3

Untuk memahami dan melaksanakan perkaderan di HMI, telah dirumuskan berbagai aspek sebagai pedoman melaksanakan perkaderan di HMI yaitu :1) pengertian kader, 2) arah perkaderan, 3) training, 4) jenjang training, 5) kurikulum training, 6) Instruktur training, 7) metode training, 8) organisasi training, 9) LPL, 10) evaluasi perkaderan, 11) follow up training, 12) wujud profil kader yang diinginkan. Tiga aspek dari 12 tersebut, disini akan diuraikan secara singkat sebagai brikut:

Petama, pengertian kader

Terlihat dalam tubuh organisasi, kader memiliki fungsi tersendiri yaitu : sebagai tenaga pengerak organisasi, sebagai calon pimpinan, dan sebagai benteng organisasi. Secara kualitatif, kader mempunyai mutu, kesangupan bekerja dan berkorban lebih besar dari pada anggota biasa. Kader itu adalah inti, kader merupakan benteng dari “serangan” luar serta penyelewengan dari dalam. Kedalam tubuh organisasi, kader merupakan pembina yang tidak berfungsi pimpinan. Kader adalah tenaga pengerak organisasi yang memahami sepenuhnya dasar dan ideologi perjuangan. Ia mampu melaksanakan program perjuangan secara konsekuen di setiap waktu, situasi dan tempat. Terbawa oleh fungsinya itu untuk menjadi kader organisasi yang berkualitas, anggota harus menjalani pendidikan, latihan dan praktikum. Pendidikan kader harus dilaksanakan secara terus menerus dan teratur, rapi dan berencana yang diatur dalam pedoman perkaderan4. Continue Reading Peranan HMI Dalam Membentuk Profil Kader HMI…

Sejarah Perumusan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP)

Februari 18, 2011 pukul 9:54 am | Ditulis dalam Headline News, Makalah | Tinggalkan komentar

Sampai pada fase perjuangan HMI dalam transisi orde lama dan orde baru,pedoman perjuangan HMI yang mendasar dan sistematis belum ada, setelah fase berikutnya baru disusun Nilai Dasar Perjuangan HMI, yang pada Kongres XVI HMI di Padang tahun 1986 pernah berubah nama menjadi Nilai Identitas Kader (NIK), pada dasarnya tidak ada perubahan atas isi dari NDP. Perubahan ini didasari atas pertimbangan politik setelah keluarnya UU No.5 tahun 1985 yang menyatakan bahwa Pancasila satu-satunya azas organisasi kemasyarakatan. Pada Kongres XXII HMI di Jambi tahun 1999 nama NIK kembali ditukar menjadi NDP, seirama dengan pertukaran azas organisasi.

Kelahiran NDP dilatarbelakangi oleh :

1.       Keadaan negara

Bangsa Indonesia sekitar 1966-1968 tengah mengalami perbaikan dari segi infra struktur maupun supra struktur, karena bangsa Indonesia baru dilanda badai pengkhianatan PKI.

2.       Keadaan umat Islam

Nurkholis Madjid dalam buku HMI Menjawab Tantangan Jaman mengungkapkan bahwa muslim Indonesia adalah termasuk yang paling sedikit ter”Arab”kan. Di Indonesia pemahaman Islam masih dangkal, sehingga masih ada persoalan bagaimana menghayati nilai-nilai Islam itu sendiri.

3.       Antek-antek PKI mempunyai pedoman yang baik

Untuk memberikan pemahaman tentang kekomunisan, para kader PKI di masa jayanya (1960-an) mempunyai buku saku yang bisa dibaca dimanapun dan kapanpun. Melihat keadaan ini timbul keinginan Cak Nur untuk menyusun dasar-dasar nilai Islam melalui kerangka sistematis yang kemudia beliau beri nama NDI (Nilai Dasar Islam) dengan tujuan NaDI ini mampu berfungsi sebagai pemahaman global tentang ajaran Islam.

4.       Literatur yang tersedia belum memuaskan

Pada waktu itu para kader HMI masih jarang sekali menuangkan ide keislaman mereka dalam bentuk tulisan, salah satu penyebabnya adalah kesibukan melawan PKI secara fisik.

Pada masa kepengurusan Nurkholis Madjid, HMI berusaha membuat pedoman perjuangan dan pada Kongres X HMI di Palembang tahun 1971, ditetapkan menjadi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), yang berasal dari naskah NDI yang disampaikan Cak Nur dalam Kongres IX HMI di Malang tahun 1969 yang selanjutnya kongres menugaskan kepada Nurkholis Madjid, Sakib Mahmud, dan Endang Saifudin Anshari (alm.) untuk menyempurnakannya. Pemilihan nama NDP sendiri memiliki alasan, yaitu (1) Nama NDI terlalu mengklaim Islam yang bahkan akan mempersimpit ajaran Islam iru sendiri, (2) Terinspirasi oleh buku “Perjuangan Kita”-nya Syahrir.

Ahmad Wahib dalam buku harian yang kemudian diterbitkan menjadi buku oleh Johan Effendi dengan tajuk “Pergolakan Pemikiran Islam” yang dianggap controversial, menuliskan bahwa perumusan NDI tersebut dipengaruhi oleh perjalanan Nurkholis Madjid ke universitas-universitas di Amerika atas undangan pemerintah Amerika pada tahun 1968. Hal ini dibantah oleh Cak Nur dalam buku HMI Menjawab Tantangan Jaman, bahwa sebenarnya perjalanan ke Amerika tidak berpengaruh banyak terhadap dirinya, karena selain perjalanan ke Amerika, Cak Nur juga melanjutkan lawatan ke Timur Tengah dengan menggunakan sisa uang saku yang dihematnya waktu di Amerika. Di Timur Tengah perjalanan dimulai dari Damaskus, Kuwait, Saudi Arabia, Turki, Lebanon, dan terakhir Mesir. Dalam perjalanan di Timur Tengah inilah untuk pertama kalinya Cak Nur bertemu Gus Dur, padahal mereka satu kampung. Di Riyadh Cak Nur bertemu dengan Dr. Farid Mustafa dan mendapat banyak hal darinya. Selama di Timur Tengah Cak Nur sering mengadakan diskusi kritis tentang berbagai hal keislaman.

Continue Reading Sejarah Perumusan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP)…

Mahasiswa Sebagai Kekuatan Inti Pembaharuan

Januari 18, 2010 pukul 1:37 pm | Ditulis dalam alumni, Makalah | 1 Komentar
Tag: , , ,
  • Pemuda adalah fase kehidupan seseorang yang sarat dengan perubahan. Suatu masa dimana seseorang mempersiapkan atau bahkan resah dengan masa depannya sendiri. Pemuda secara kejiwaan berada dalam fase “mondig” artinya dia senantiasa berbuat untuk mencari jati dirinya. Oleh karena itu anak muda sering memiliki integritas tinggi, kadang-kadang sedikit kurang realistis.
  • Mahasiswa adalah anak muda yng belajar di perguruan tinggi. Dikatakan sebagai inti kekuatan pemuda/pembaharuan karena memiliki ilmu pengetahuan yang lebih dibandingkan kawan-kawannya yang tidak mengecap pendidikan tinggi
  • Adapun ciri-ciri yang lain adalah pertama, dia memiliki otonomi yang tinggi, tidak bergantung pada pihak manapun, dan karena idealismenya jarang memiliki kepentingan politik tertentu. Kedua, karena berpendidikan tinggi maka secara politis dia telah mengalami sosialisasi politik yang lebih tinggi, di kampusnya mereka mengalami akulturasi mengeingat heterogenitas penghuni kampus. Kondisi tersebut memungkinkan transformasi dalam tataran nilai pada mahasiswa.
  • Dengan ciri demikian, pemuda sering kali menjadi sosok yang sarat nilai, apalagi mahasiswa dalam konteks sosial. Kepekaan yang tinggi memungkinkannya menjadi kritis atas berbagai keadaan sosial. Apalagi dengan idealismenya dia akan menjadi “moral force”. Sedangkan dengan otonominya mereka memposisikan diri sebagai “kontrol sosial”. Karena kekuatan-kekuatan potensialnya itu mahasiswa menempati berbagai agensi antara lain, agen perubahan, agen pembaharuan, manusia masa depan, dan sebagainya/ Inilah barangkali yang disebut “ Intelektual muda”, yang dalam bahasa Ali Syariati disebut sebagai manusia-manusia tercerahkan yang kritis atas kondisi masyarakatnya dan siap memimpin masyarakatnya keluar dari kesulitan menuju keadaan yang lebih baik.
  • Dalam tinjauan historis pemuda/mahasiswa dan pergerakan nasional merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan. Di Indonesia lahirnya kaum muda dalam pergerakan nasional menandai lahirnya kaum intelektual modern. Isue yang berkembang dalam gerakan tahun 08-20-an menyangkut berbagai persoalan dalam dunia sosial dan anti kolonialisme. Lahirnya “manifesto politik” tahun 1925 yang dipelopori Hatta, mencerminkan bahwa issue sentral gerakan awal abad XX adalah tuntutan kemerdekaan sebagai suatu bangsa. Inilah yang menjadi titik tolak lahirnya “sumpah pemuda” tahun 1928.
  • Pada periode setelah kemerdekaan Indonesia, gerakan mahasiswa tetap menjadi pelopor dalam upaya mempertahan kemerdekaan dengan terjun langsung ke kancah revolusi kemerdekaan. Gerakan mahasiswa tahun 60-an melahirkan angkatan 66 yang bercorak gerakan massa untuk menjatuhkan pemerintahan Sukarno.
  • Pada masa orde baru, puncak-puncak gerakan mahasiswa dimulai dari peristiwa malari (15 Januari 1974) dengan issue ekonomi dan politik. Buntut dari peristiwa malari adalah depolitisasi kampus dengan diturunkannya NKK/BKK oleh pemerintah melalui Daud Joesoef sebagai mendikbud dengan pembubaran Dewan Mahasiswa. Dengan pemberlakuan NKK/BKK pemerintah orde baru berhasil membungkam gerakan mahasiswa yang kritis untuk jangka waktu yang cukup panjang. Guna menyiasati kondisi kampus yang lesu dan tidak peka atas kondisi masyarakat, mahasiswa tahun 80-an cenderung mengalihkan gerakan mereka dengan membentu kelompok-kelompok studi. Aksi jalanan yang memang beriko besar dalam pemerintahan yang represif menjadi kurang diminati.
  • Sekuat apapun rezim penguasa membungkam nurani rakyat, secarah mencatat bahawa pada akhirnya akan bobol juga. Mei 1998 Mahasiswa kembali membuktikan kepeloporannya sebagai pendobrak tirani dan penyuara hati nurani rakyat. Rezim Suharto yang telah 32 tahun berkuasa tumbang melalui serangkaian aksi masa yang berhasil menduduki gedung DPR/MPR RI.
  • Memperhatikan latar kesejarahan diatas, kita ketahui peran vital mahasiswa adalah sebagai moral force. Tidak semua mahasiswa memang menjalankan peran ini, tapi hanya segelintir yang memang memiliki kepekaan sosial yang tinggi sehingga siap menghadapi resiko politik dan resiko akademik atas apa yang mereka lakukan.

NB :  Dipublikasikan ulang dari weblog hmi cabang denpasar yang lama.

YAKUSA

Halaman Berikutnya »

Blog di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.968 pengikut lainnya.